Sejarah Nabi Muhammad SAW awal periode Arab
Daftar Isi
Apapun juga yang telah
diperoleh sarjana-sarjana arkelogi dalam bidang sejarah itu, samasekali tidak
akan mengubah sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian
benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum memperlihatkan hasil yang
berlawanan. Kenyataan ini ialah bahwa sumber peradaban pertama - baik di Mesir,
Funisia atau Asiria - ada hubungannya dengan Laut Tengah; dan bahwa Mesir
adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu ke Yunani atau
Rumawi, dan bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup kita sekarang ini, masih
erat sekali hubungannya dengan peradaban pertama itu.
Apa yang pernah
diperlihatkan oleh Timur Jauh dalam penyelidikam tentang sejarah peradaban,
tidak pernah memberi pengaruh yang jelas terhadap pengembangan
peradaban-peradaban Fira'un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah
tujuan dan perkembangan peradaban-peradaban tersebut. Hal ini baru terjadi
sesudah ada akulturasi dan saling-hubungan dengan peradaban Islam. Di sinilah
proses saling pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah
sedemikian rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban dunia yang
menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.
Peradaban-peradaban itu
sudah begitu berkembang dan tersebar ke pantai-pantai Laut Tengah atau di
sekitarnya, di Mesir, di Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang lalu, yang
sampai saat ini perkembangannya tetap dikagumi dunia: perkembangan dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi, dalam bidang pertanian, perdagangan, peperangan dan
dalam segala bidang kegiatan manusia. Tetapi, semua peradaban itu, sumber dan
pertumbuhannya, selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa sumber itu
berbeda-beda antara kepercayaan trinitas Mesir Purba yang tergambar dalam
Osiris, Isis dan Horus, yang memperlihatkan kesatuan dan penjelmaan hidup
kembali di negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak, dan
antara paganisma Yunani dalam melukiskan kebenaran, kebaikan dan keindahan yang
bersumber dan tumbuh dari gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera; demikian
sesudah itu timbul perbedaan-perbedaan yang dengan penggambaran semacam itu
dalam pelbagai zaman kemunduran itu telah mengantarkannya ke dalam kehidupan
duniawi. Akan tetapi sumber semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan
sejarah dunia, yang begitu kuat pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini,
sekalipun peradaban demikian hendak mencoba melepaskan diri dan melawan
sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapa tahu, hal yang serupa kelak
akan hidup kembali.
Dalam lingkungan masyarakat
ini, yang menyandarkan peradabannya sejak ribuan tahun kepada sumber agama,
dalam lingkungan itulah dilahirkan para rasul yang membawa agama-agama yang
kita kenal sampai saat ini. Di Mesir dilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun
ia dibesarkan dan diasuh, dan di tangan para pendeta dan pemuka-pemuka agama
kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan dan rahasia-rahasia alam.
Setelah datang ijin Tuhan
kepadanya supaya ia membimbing umat di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada
rakyatnya: "Akulah tuhanmu yang tertinggi" iapun berhadapan dengan
Firaun sendiri dan tukang-tukang sihirnya, sehingga akhirnya terpaksa ia
bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina. Dan di Palestina
ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah yang ditiupkan ke dalam diri
Mariam. Setelah Tuhan menarik kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya
kemudian menyebarkan agama Nasrani yang dianjurkan Isa itu. Mereka dan
pengikut-pengikut mereka mengalami bermacam-macam penganiayaan. Kemudian
setelah dengan kehendak Tuhan agama ini tersebar, datanglah Maharaja Rumawi
yang menguasai dunia ketika itu, membawa panji agama Nasrani. Seluruh Kerajaan
Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di Mesir, di Syam
(Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan dari Mesir menyebar pula ke
Ethiopia. Sesudah itu selama beberapa abad kekuasaan agama ini semakin kuat
juga. Semua yang berada di bawah panji Kerajaan Rumawi dan yang ingin
mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini, berada di bawah
panji agama Masehi itu.
Berhadapan dengan agama
Masehi yang tersebar di bawah panji dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula
kekuasaan agama Majusi di Persia yang mendapat dukungan moril di Timur Jauh dan
di India. Selama beberapa abad itu Asiria dan Mesir yang membentang sepanjang
Funisia, telah merintangi terjadinya suatu pertarungan langsung antara
kepercayaan dan peradaban Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir dan Funisia
ke dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan itu. Paham Masehi
di Barat dan Majusi di Timur sekarang sudah berhadap-hadapan muka. Selama
beberapa abad berturut-turut, baik Barat maupun Timur, dengan hendak
menghormati agamanya masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan
alam, kini telah berhadapan dengan rintangan moril, masing-masing merasa perlu
dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan kepercayaannya, dan satu sama lain
tidak saling mempengaruhi kepercayaan atau peradabannya, sekalipun peperangan
antara mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.
Akan tetapi, sekalipun
Persia telah dapat mengalahkan Rumawi dan dapat menguasai Syam dan Mesir dan
sudah sampai pula di ambang pintu Bizantium, namun tak terpikir oleh raja-raja
Persia akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat agama Nasrani.
Bahkan pihak yang kini berkuasa itu malahan menghormati kepercayaan orang yang
dikuasainya. Rumah-rumah ibadat mereka yang sudah hancur akibat perang dibantu
pula membangun kembali dan dibiarkan mereka bebas menjalankan upacara-upacara
keagamaannya. Satu-satunya yang diperbuat pihak Persia dalam hal ini hanyalah
mengambil Salib Besar dan dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu
berganti berada di pihak Rumawi, Salib itupun diambilnya kembali dari tangan
Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat itu tetap di Barat dan di
Timur tetap di Timur. Dengan demikian rintangan moril tadi sama pula dengan
rintangan alam dan kedua kekuatan itu dari segi rohani tidak saling
berbenturan.
Keadaan serupa itu
berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam pada itu pertentangan antara Rumawi
dengan Bizantium makin meruncing. Pihak Rumawi, yang benderanya berkibar di
benua Eropa sampai ke Gaul dan Kelt di Inggris selama beberapa generasi dan
selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia dan tetap dibanggakan,
kemegahannya itu berangsur-angsur telah mulai surut, sampai akhirnya Bizantium
memisahkan diri dengan kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan
Rumawi yang menguasai dunia itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah
tatkala pasukan Vandal yang buas itu datang menyerbunya dan mengambil kekuasaan
pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini telah menimbulkan bekas yang dalam
pada agama Masehi yang tumbuh dalam pangkuan Kerajaan Rumawi. Mereka yang sudah
beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan besar, berada
dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.
Mazhab-mazhab agama Masehi
ini mulai pecah-belah. Dari zaman ke zaman mazhab-mazhab itu telah terbagi-bagi
ke dalam sekta-sekta dan golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai pandangan
dan dasar-dasar agama sendiri yang bertentangan dengan golongan lainnya. Pertentangan-pertentangan
antara golongan-golongan satu sama lain karena perbedaan pandangan itu telah
mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa oleh karena moral dan jiwa
yang sudah lemah, sehingga cepat sekali ia berada dalam ketakutan, mudah terlibat
dalam fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di antara
golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa Isa mempunyai jasad
disamping bayangan yang tampak pada manusia; ada pula yang mempertautkan secara
rohaniah antara jasad dan ruhnya sedemikian rupa sehingga memerlukan khayal dan
pikiran yang begitu rumit untuk dapat menggambarkannya; dan disamping itu ada
pula yang mau menyembah Mariam, sementara yang lain menolak pendapat bahwa ia
tetap perawan sesudah melahirkan Almasih.
Terjadinya pertentangan
antara sesama pengikut-pengikut Isa itu adalah peristiwa yang biasa terjadi
pada setiap umat dan zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran: soalnya
hanya terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap kata dan
tiap bilangan itu ditafsirkan pula dengan bermacam-macam arti, ditambah dengan
rahasia-rahasia, ditambah dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal dan
hanya dapat dikunyah oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku saja.
Salah seorang pendeta
gereja berkata: "Seluruh penjuru kota itu diliputi oleh perdebatan. Orang
dapat melihatnya dalam pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran
uang, pedagang makanan. Jika ada orang bermaksud hendak menukar sekeping emas,
ia akan terlibat ke dalam suatu perdebatan tentang apa yang diciptakan dan apa
yang bukan diciptakan. Kalau ada orang hendak menawar harga roti maka akan
dijawabnya: Bapa lebih besar dari putera dan putera tunduk kepada Bapa. Bila
ada orang yang bertanya tentang kolam mandi adakah airnya hangat, maka
pelayannya akan segera menjawab: "Putera telah diciptakan dari yang tak
ada."
Tetapi kemunduran yang
telah menimpa agama Masehi sehingga ia terpecah-belah ke dalam
golongan-golongan dan sekta-sekta itu dari segi politik tidak begitu besar
pengaruhnya terhadap Kerajaan Rumawi. Kerajaan itu tetap kuat dan kukuh.
Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan tetap adanya
semacam pertentangan tapi tidak sampai orang melibatkan diri kedalam polemik teologi
atau sampai memasuki pertemuan-pertemuan semacam itu yang pernah diadakan guna
memecahkan sesuatu masalah. Suatu keputusan yang pernah diambil oleh suatu
golongan tidak sampai mengikat golongan yang lain. Dan Kerajaanpun telah pula
melindungi semua golongan itu dan memberi kebebasan kepada mereka mengadakan
polemik, yang sebenarnya telah menambah kuatnya kekuasaan Kerajaan dalam bidang
administrasi tanpa mengurangi penghormatannya kepada agama. Setiap golongan
jadinya bergantung kepada belas kasihan penguasa, bahkan ada dugaan bahwa
golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan pihak yang berkuasa
itu.
Sikap saling menyesuaikan
diri di bawah naungan Imperium itu itulah pula yang menyebabkan penyebaran
agama Masehi tetap berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi
sampai ke Ethiopia yang merdeka tapi masih dalam lingkungan persahabatan dengan
Rumawi. Dengan demikian ia mempunyai kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut
Merah seperti di sekitar Laut Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke
Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab Ghassan yang pindah ke sana
telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai Furat, penduduk Hira, Lakhmid
dan Mundhir yang berpindah dari pedalaman sahara yang tandus ke daerah-daerah
subur juga demikian, yang selanjutnya mereka tinggal di daerah itu beberapa
lama untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia Majusi.
Dalam pada itu kehidupan
Majusi di Persia telah pula mengalami kemunduran seperti agama Masehi dalam
Imperium Rumawi. Kalau dalam agama Majusi menyembah api itu merupakan gejala
yang paling menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dan kejahatan
pengikut-pengikutnya telah berpecah-belah juga menjadi golongan-golongan dan
sekta-sekta pula. Tapi disini bukan tempatnya menguraikan semua itu. Sungguhpun
begitu kekuasaan politik Persia tetap kuat juga. Polemik keagamaan tentang
lukisan dewa serta adanya pemikiran bebas yang tergambar dibalik lukisan itu,
tidaklah mempengaruhinya. Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua
berlindung di bawah raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentangan itu
ialah karena memang sengaja digunakan sebagai suatu cara supaya satu dengan
yang lain saling berpukulan, atas dasar kekuatiran, bila salah satunya menjadi
kuat, maka Raja atau salah satu golongan itu akan memikul akibatnya.
Kedua kekuatan yang
sekarang sedang berhadap-hadapan itu ialah: kekuatan Kristen dan kekuatan
Majusi, kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. Bersamaan dengan itu
kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada di bawah pengaruh kedua kekuatan itu,
pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab. Kedua kekuatan itu
masing-masing mempunyai hasrat ekspansi dan penjajahan. Pemuka-pemuka kedua
agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke
atas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya. Sungguhpun demikian jazirah
itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak sampai terjamah oleh peperangan,
kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah
oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagian kecil saja
pada beberapa kabilah. Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh
kalau tidak kita lihat letak dan iklim jazirah itu serta pengaruh keduanya
terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta
kecenderungan hidup mereka masing-masing.
Jazirah Arab bentuknya
memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam,
ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke
sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut
Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari
utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia. Akan tetapi
bukan rintangan itu saja yang telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan
penjajahan dan penyebaran agama, melainkan juga karena jaraknya yang
berjauh-jauhan. Panjang semenanjung itu melebihi seribu kilometer, demikian
juga luasnya sampai seribu kilometer pula. Dan yang lebih-lebih lagi
melindunginya ialah tandusnya daerah ini yang luar biasa hingga semua penjajah
merasa enggan melihatnya. Dalam daerah yang seluas itu sebuah sungaipun tak
ada. Musim hujan yang akan dapat dijadikan pegangan dalam mengatur sesuatu
usaha juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak di sebelah selatan
yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak hujan turun, wilayah Arab lainnya
terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah tandus serta alam
yang gersang. Tak mudah orang akan dapat tinggal menetap atau akan memperoleh
kemajuan. Sama sekali hidup di daerah itu tidak menarik selain hidup mengembara
terus-menerus dengan mempergunakan unta sebagai kapalnya di tengah-tengah
lautan padang pasir itu, sambil mencari padang hijau untuk makanan ternaknya,
beristirahat sebentar sambil menunggu ternak itu menghabiskan makanannya,
sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru di tempat lain.
Tempat-tempat beternak yang dicari oleh orang-orang badwi jazirah biasanya di
sekitar mata air yang menyumber dari bekas air hujan, air hujan yang turun dari
celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang
terserak di sana-sini dalam wahah-wahah yang berada di sekitar mata air.
Sudah wajar sekali dalam
wilayah demikian itu, yang seperti Sahara Afrika Raya yang luas, tak ada orang
yang dapat hidup menetap, dan cara hidup manusia yang biasapun tidak pula dikenal.
Juga sudah biasa bila orang yang tinggal di daerah itu tidak lebih maksudnya
hanya sekadar menjelajahinya dan menyelamatkan diri saja, kecuali di
tempat-tempat yang tak seberapa, yang masih ditumbuhi rumput dan tempat
beternak. Juga sudah sewajarnya pula tempat-tempat itu tetap tak dikenal karena
sedikitnya orang yang mau mengembara dan mau menjelajahi daerah itu. Praktis
orang zaman dahulu tidak mengenal jazirah Arab, selain Yaman. Hanya saja
letaknya itu telah dapat menyelamatkan dari pengasingan dan penghuninyapun
dapat bertahan diri.
Pada masa itu orang belum
merasa begitu aman mengarungi lautan guna mengangkut barang dagangan atau
mengadakan pelayaran. Dari peribahasa Arab yang dapat kita lihat sekarang
menunjukkan, bahwa ketakutan orang menghadapi laut sama seperti dalam
menghadapi maut. Tetapi, bagaimanapun juga untuk mengangkut barang dagangan itu
harus ada jalan lain selain mengarungi bahaya maut itu. Yang paling penting
transpor perdagangan masa itu ialah antara Timur dan Barat: antara Rumawi dan
sekitarnya, serta India dan sekitarnya. Jazirah Arab masa itu merupakan daerah
lalu-lintas perdagangan yang diseberanginya melalui Mesir atau melalui Teluk
Persia, lewat terusan yang terletak di mulut Teluk Persia itu. Sudah tentu wajar
sekali bilamana penduduk pedalaman jazirah Arab itu menjadi raja sahara, sama
halnya seperti pelaut-pelaut pada masa-masa berikutnya yang daerahnya lebih
banyak dikuasai air daripada daratan, menjadi raja laut. Dan sudah wajar pula
bilamana raja-raja padang pasir itu mengenal seluk-beluk jalan para kafilah
sampai ke tempat-tempat yang berbahaya, sama halnya seperti para pelaut, mereka
sudah mengenal garis-garis perjalanan kapal sampai sejauh-jauhnya. "Jalan
kafilah itu bukan dibiarkan begitu saja," kata Heeren, "tetapi sudah
menjadi tempat yang tetap mereka lalui. Di daerah padang pasir yang luas itu,
yang biasa dilalui oleh para kafilah, alam telah memberikan tempat-tempat
tertentu kepada mereka, terpencar-pencar di daerah tandus, yang kelak menjadi
tempat mereka beristirahat. Di tempat itu, di bawah naungan pohon-pohon kurma
dan di tepi air tawar yang mengalir di sekitarnya, seorang pedagang dengan
binatang bebannya dapat menghilangkan haus dahaga sesudah perjalanan yang
melelahkan itu. Tempat-tempat peristirahatan itu juga telah menjadi gudang
perdagangan mereka, dan yang sebagian lagi dipakai sebagai tempat penyembahan,
tempat ia meminta perlindungan atas barang dagangannya atau meminta pertolongan
dari tempat itu."1
Lingkungan jazirah itu
penuh dengan jalan kafilah. Yang penting di antaranya ada dua. Yang sebuah
berbatasan dengan Teluk Persia, Sungai Dijla, bertemu dengan padang Syam dan
Palestina. Pantas jugalah kalau batas daerah-daerah sebelah timur yang
berdekatan itu diberi nama Jalan Timur. Sedang yang sebuah lagi berbatasan
dengan Laut Merah; dan karena itu diberi nama Jalan Barat. Melalui dua jalan
inilah produksi barang-barang di Barat diangkut ke Timur dan barang-barang di
Timur diangkut ke Barat. Dengan demikian daerah pedalaman itu mendapatkan
kemakmurannya.
Akan tetapi itu tidak
menambah pengetahuan pihak Barat tentang negeri-negeri yang telah dilalui
perdagangan mereka itu. Karena sukarnya menempuh daerah-daerah itu, baik pihak
Barat maupun pihak Timur sedikit sekali yang mau mengarunginya - kecuali bagi
mereka yang sudah biasa sejak masa mudanya. Sedang mereka yang berani secara
untung-untungan mempertaruhkan nyawa banyak yang hilang secara sia-sia di
tengah-tengah padang tandus itu. Bagi orang yang sudah biasa hidup mewah di
kota, tidak akan tahan menempuh gunung-gunung tandus yang memisahkan Tihama
dari pantai Laut Merah dengan suatu daerah yang sempit itu. Kalaupun pada waktu
itu ada juga orang yang sampai ke tempat tersebut - yang hanya mengenal unta
sebagai kendaraan - ia akan mendaki celah-celah pegunungan yang akhirnya akan
menyeberang sampai ke dataran tinggi Najd yang penuh dengan padang pasir. Orang
yang sudah biasa hidup dalam sistem politik yang teratur dan dapat menjamin
segala kepuasannya akan terasa berat sekali hidup dalam suasana pedalaman yang
tidak mengenal tata-tertib kenegaraan. Setiap kabilah, atau setiap keluarga,
bahkan setiap pribadipun tidak mempunyai suatu sistiem hubungan dengan pihak
lain selain ikatan keluarga atau kabilah atau ikatan sumpah setia kawan atau sistem
jiwar (perlindungan bertetangga) yang biasa diminta oleh pihak yang lemah
kepada yang lebih kuat.
Pada setiap zaman
tata-hidup bangsa-bangsa pedalaman itu memang berbeda dengan kehidupan di
kota-kota. Ia sudah puas dengan cara hidup saling mengadakan pembalasan,
melawan permusuhan dengan permusuhan, menindas yang lemah yang tidak mempunyai
pelindung. Keadaan semacam ini tidak menarik perhatian orang untuk membuat
penyelidikan yang lebih dalam. Oleh karena itu daerah Semenanjung ini tetap
tidak dikenal dunia pada waktu itu. Dan barulah kemudian - sesudah Muhammad
s.a.w. lahir di tempat tersebut - orang mulai mengenal sejarahnya dari
berita-berita yang dibawa orang dari tempat itu, dan daerah yang tadinya sama
sekali tertutup itu sekarang sudah mulai dikenal dunia.
Tak ada yang dikenal dunia
tentang negeri-negeri Arab itu selain Yaman dan tetangga-tetangganya yang
berbatasan dengan Teluk Persia. Hal ini bukan karena hanya disebabkan oleh
adanya perbatasan Teluk Persia dan Samudera Indonesia saja, tetapi lebih-lebih
disebabkan oleh - tidak seperti jazirah-jazirah lain - gurun sahara yang
tandus. Dunia tidak tertarik, negara yang akan bersahabatpun tidak merasa akan
mendapat keuntungan dan pihak penjajah juga tidak punya kepentingan.
Sebaliknya, daerah Yaman tanahnya subur, hujan turun secara teratur pada setiap
musim. Ia menjadi negeri peradaban yang kuat, dengan kota-kota yang makmur dan
tempat-tempat beribadat yang kuat sepanjang masa. Penduduk jazirah ini terdiri
dari suku bangsa Himyar, suatu suku bangsa yang cerdas dan berpengetahuan luas.
Air hujan yang menyirami bumi ini mengalir habis menyusuri tanah terjal sampai
ke laut. Mereka membuat Bendungan Ma'rib yang dapat menampung arus air hujan
sesuai dengan syarat-syarat peradaban yang berlaku.
Sebelum di bangunnya
bendungan ini , air hujan yang deras terjun dari pegunungan Yaman yang
tinggi-tinggi itu, menyusur turun ke lembah-lembah yang terletak di sebelah
timur kota Ma'rib. Mula-mula air turun melalui celah-celah dua buah gunung yang
terletak di kanan-kiri lembah ini, memisahkan satu sama lain seluas kira-kira
400 meter. Apabila sudah sampai di Ma'rib air itu menyebar ke dalam lembah
demikian rupa sehingga hilang terserap seperti di bendungan-bendungan Hulu
Sungai Nil. Berkat pengetahuan dan kecerdasan yang ada pada penduduk Yaman itu,
mereka membangun sebuah bendungan, yaitu Bendungan Ma'rib. Bendungan ini
dibangun daripada batu di ujung lembah yang sempit, lalu dibuatnya celah-celah
guna memungkinkan adanya distribusi air ke tempat-tempat yang mereka kehendaki
dan dengan demikian tanah mereka bertambah subur.
Peninggalan-peninggalan
peradaban Himyar di Yaman yang pernah diselidiki - dan sampai sekarang
penyelidikan itu masih diteruskan -menunjukkan, bahwa peradaban mereka pada
suatu saat memang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali, juga sejarahpun
menunjukkan bahwa Yaman pernah pula mengalami bencana.
Sungguhpun begitu peradaban
yang dihasilkan dari kesuburan negerinya serta penduduknya yang menetap
menimbulkan gangguan juga dalam lingkungan jazirah itu. Raja-raja Yaman kadang
dari keluarga Himyar yang sudah turun-temurun, kadang juga dari kalangan rakyat
Himyar sampai pada waktu Dhu Nuwas al-Himyari berkuasa. Dhu Nuwas sendiri
condong sekali kepada agama Musa (Yudaisma), dan tidak menyukai penyembahan
berhala yang telah menimpa bangsanya. Ia belajar agama ini dari orang-orang
Yahudi yang pindah dan menetap di Yaman. Dhu Nuwas inilah yang disebut-sebut
oleh ahli-ahli sejarah, yang termasuk dalam kisah "orang-orang yang
membuat parit," dan menyebabkan turunnya ayat: "Binasalah orang-orang
yang telah membuat parit. Api yang penuh bahan bakar. Ketika mereka duduk di
tempat itu. Dan apa yang dilakukan orang-orang beriman itu mereka menyaksikan.
Mereka menyiksa orang-orang itu hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang
Maha Mulia dan Terpuji." (Qur'an 85:4-8)
Cerita ini ringkasnya ialah
bahwa ada seorang pengikut Nabi Isa yang saleh bernama Phemion telah pindah
dari Kerajaan Rumawi ke Najran. Karena orang ini baik sekali, penduduk kota itu
banyak yang mengikuti jejaknya, sehingga jumlah mereka makin lama makin
bertambah juga. Setelah berita itu sampai kepada Dhu Nuwas, ia pergi ke Najran
dan dimintanya kepada penduduk supaya mereka masuk agama Yahudi, kalau tidak
akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka digalilah sebuah parit dan dipasang
api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati
karena api, dibunuhnya kemudian dengan pedang atau dibikin cacat. Menurut
beberapa buku sejarah korban pembunuhan itu mencapai duapuluh ribu orang. Salah
seorang di antaranya dapat lolos dari maut dan dari tangan Dhu Nuwas, ia lari
ke Rumawi dan meminta bantuan Kaisar Yustinianus atas perbuatan Dhu Nuwas itu.
Oleh karena letak Kerajaan Rumawi ini jauh dari Yaman, Kaisar itu menulis surat
kepada Najasyi (Negus) supaya mengadakan pembalasan terhadap raja Yaman. Pada
waktu itu [abad ke-6] Abisinia yang dipimpin oleh Najasyi sedang berada dalam
puncak kemegahannya. Perdagangan yang luas melalui laut disertai oleh armada
yang kuat2 dapat menancapkan pengaruhnya sampai sejauh-jauhnya. Pada waktu itu
ia menjadi sekutu Imperium Rumawi Timur dan yang memegang panji Kristen di Laut
Merah, sedang Kerajaan Rumawi Timur sendiri menguasainya di bagian Laut Tengah.
Setelah surat Kaisar sampai
ke tangan Najasyi, ia mengirimkan bersama orang Yaman itu - yang membawa surat
- sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha al-Asyram salah
seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia.
Ia memerintah Yaman ini sampai ia dibunuh oleh Abraha yang kemudian menggantikan
kedudukannya. Abraha inilah yang memimpin pasukan gajah, dan dia yang kemudian
menyerbu Mekah guna menghancurkan Ka'bah tetapi gagal, seperti yang akan
terlihat nanti dalam pasal berikut. Anak-anak Abraha kemudian menguasai Yaman
dengan tindakan sewenang-wenang. Melihat bencana yang begitu lama menimpa
penduduk, Saif bin Dhi Yazan pergi hendak menemui Maharaja Rumawi. Ia
mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya mengirimkan penguasa lain
dan Rumawi ke Yaman. Tetapi karena adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar
Yustinianus dengan Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi permintaan Saif bin
Dhi Yazan itu. Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan pergi menemui
Nu'man bin'l-Mundhir selaku Gubernur yang diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira
dan sekitarnya di Irak.3
Nu'man dan Saif bin Dhi
Yazan bersama-sama datang menghadap Kisra Parvez. Waktu itu ia sedang duduk
dalam Ruangan Resepsi (Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-lukisan
bimasakti pada bagian tahta itu. Di tempat musim dinginnya bagian ini
dikelilingi dengan tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah sekali. Di
tengah-tengah itu bergantungan lampu-lampu kendil terbuat daripada perak dan
emas dan diisi penuh dengan air tawar. Di atas tahta itulah terletak mahkotanya
yang besar berhiaskan batu delima, kristal dan mutiara bertali emas dan perak,
tergantung dengan rantai dari emas pula. Ia sendiri memakai pakaian serba emas.
Setiap orang yang memasuki tempat itu akan merasa terpesona oleh kemegahannya.
Demikian juga halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.
Kisra menanyakan maksud
kedatangannya itu dan Saifpun bercerita tentang kekejaman Abisinia di Yaman.
Sungguhpun pada mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi kemudian ia mengirimkan
juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?), salah seorang keluarga
ningrat Persia yang paling berani. Persia telah mendapat kemenangan dan
orang-orang Abisinia dapat diusir dari Yaman yang sudah didudukinya selama 72
tahun itu.
Sejak itulah Yaman berada di bawah kekuasaan
Persia, dan ketika Islam lahir seluruh daerah Arab itu berada dalam naungan
agama baru ini.
Akan tetapi orang-orang
asing yang telah menguasai Yaman itu tidak langsung di bawah kekuasaan Raja
Persia. Terutama hal itu terjadi setelah Syirawih (Shiruya Kavadh II) membunuh
ayahnya, Kisra Parvez, dan dia sendiri menduduki takhta. Ia membayangkan -
dengan pikirannya yang picik itu bahwa dunia dapat dikendalikan sekehendaknya
dan bahwa kerajaannya membantu memenuhi kehendaknya yang sudah hanyut dalam
hidup kesenangan itu. Masalah-masalah kerajaan banyak sekali yang tidak
mendapat perhatian karena dia sudah mengikuti nafsunya sendiri. Ia pergi
memburu dalam suatu kemewahan yang belum pernah terjadi Ia berangkat diiringi
oleh pemuda-pemuda ningrat berpakaian merah, kuning dan lembayung, dikelilingi
oleh pengiring-pengiring yang membawa burung elang dan harimau yang sudah
dijinakkan dan ditutup moncongnya; oleh budak-budak yang membawa wangi-wangian,
oleh pengusir-pengusir lalat dan pemain-pemain musik. Supaya merasa dirinya
dalam suasana musim semi sekalipun sebenarnya dalam musim dingin yang berat, ia
beserta rombongannya duduk di atas permadani yang lebar dilukis dengan
lorong-lorong, ladang dan kebun yang ditanami bunga-bungaan aneka warna, dan
dilatarbelakangi oleh semak-semak, hutan hijau serta sungai-sungai berwarna
perak.
Tetapi sungguhpun Syirawih
begitu jauh mengikuti kesenangannya, kerajaan Persia tetap dapat mempertahankan
kemegahannya, dan tetap merupakan lawan yang kuat terhadap kekuasaan Bizantium
dan penyebaran Kristen. Sekalipun dengan naik tahtanya Syirawih ini telah
mengurangi kejayaan kerajaannya, ia telah memberi kesempatan kepada kaum
Muslimin memasuki negerinya dan menyebarkan Islam.
Yaman yang telah dijadikan
gelanggang pertentangan sejak abad ke-4 itu sebenarnya telah meninggalkan bekas
yang dalam sekali dalam sejarah Semenanjung Arab dari segi pembagian
penduduknya. Disebutkan bahwa Bendungan Ma'rib yang oleh suku-bangsa Himyar telah
dimanfaatkan untuk keuntungan negerinya, telah hancur pula dilanda banjir
besar. Disebabkan oleh adanya pertentangan yang terus-menerus itu, lalailah
mereka yang harus selalu mengawasi dan memeliharanya. Bendungan itu lapuk dan
tidak tahan lagi menahan banjir. Dikatakan juga, bahwa setelah Rumawi melihat
Yaman menjadi pusat pertentangan antara kerajaannya dengan Persia dan bahwa
perdagangannya terancam karena pertentangan itu, iapun menyiapkan armadanya
menyeberangi Laut Merah - antara Mesir dengan negeri-negeri Timur yang jauh -
guna menarik perdagangan yang dibutuhkan oleh negerinya. Dengan demikian tidak
perlu lagi ia menempuh jalan kafilah.
Mengenai peristiwanya,
ahli-ahli sejarah sependapat, tetapi mengenai sebab terjadinya peristiwa itu
mereka berlainan pendapat. Peristiwanya ialah mengenai pindahnya kabilah Azd di
Yaman ke Utara. Semua mereka sependapat tentang kepindahan ini, sekalipun
sebagian menghubungkannya dengan sepinya beberapa kota di Yaman karena
mundurnya perdagangan yang biasa melalui tempat itu. Yang lain
menghubung-hubungkan kepada rusaknya bendungan Ma'rib, sehingga banyak di
antara kabilah-kabilah yang pindah karena takut binasa. Tetapi apapun juga
kejadiannya, namun adanya imigrasi ini telah menyebabkan Yaman jadi berhubungan
dengan negeri-negeri Arab lainnya, suatu hubungan keturunan dan percampuran
yang sampai sekarang masih dicoba oleh para sarjana menyelidikinya.
Apabila sistem politik di
Yaman sudah menjadi kacau seperti yang dapat kita saksikan, yang disebabkan
oleh keadaan yang menimpa negeri itu serta dijadikannya tempat itu medan
pertarungan, maka struktur politik serupa itu tidak dikenal pada beberapa
negeri Semenanjung Arab lainnya waktu itu. Segala macam sistem yang dapat
dianggap sebagai suatu sistem politik seperti pengertian kita sekarang atau
seperti pengertian negara-negara yang sudah maju pada masa itu, di
daerah-daerah seperti Tihama, Hijaz, Najd dan sepanjang dataran luas yang
meliputi negeri-negeri Arab, pengertian demikian itu belum dikenal. Anak negeri
pada masa itu bahkan sampai sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa
di kota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat. Yang mereka
kenal hanyalah hidup mengembara selalu, berpindah-pindah mencari padang rumput
dan menuruti keinginan hatinya. Mereka tidak mengenal hidup cara lain selain
pengembaraan itu.
Seperti juga di
tempat-tempat lain, di sinipun dasar hidup pengembaraan itu ialah kabilah.
Kabilah-kabilah yang selalu pindah dan mengembara itu tidak mengenal suatu
peraturan atau tata-cara seperti yang kita kenal. Mereka hanya mengenal
kebebasan pribadi, kebebasan keluarga dan kebebasan kabilah yang penuh. Sedang
orang kota, atas nama tata-tertib mau mengalah dan membuang sebagian
kemerdekaan mereka untuk kepentingan masyarakat dan penguasa, sebagai imbalan
atas ketenangan dan kemewahan hidup mereka. Sedang seorang pengembara tidak
pedulikan kemewahan, tidak betah dengan ketenangan hidup menetap, juga tidak
tertarik kepada apapun - seperti kekayaan yang menjadi harapan orang kota - selain
kebebasannya yang mutlak. Ia hanya mau hidup dalam persamaan yang penuh dengan
anggota-anggota kabilahnya atau kabilah-kabilah lain sesamanya. Dasar
kehidupannya ialah seperti makhluk-makhluk lain, mau survive, mau bertahan
terus sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah kehormatannya yang sudah ditanamkan
dalam hidup mengembara yang serba bebas itu.
Oleh karena itu, kaum
pengembara tidak menyukai tindakan ketidak-adilan yang ditimpakan kepada
mereka. Mereka mau melawannya mati-matian, dan kalau tidak dapat melawan,
ditinggalkannya tempat tinggal mereka itu, dan mereka mengembara lagi ke
seluruh jazirah, bila memang terpaksa harus demikian.
Juga itu pula sebabnya,
perang adalah jalan yang paling mudah bagi kabilah-kabilah ini bila harus juga
timbul perselisihan yang tidak mudah diselesaikan dengan cara yang terhormat.
Karena bawaan itu juga, maka tumbuhlah di kalangan sebagian besar
kabilah-kabilah itu sifat-sifat harga diri, keberanian, suka tolong-menolong,
melindungi tetangga serta sikap memaafkan sedapat mungkin dan semacamnya.
Sifat-sifat ini akan makin kuat apabila semakin dekat ia kepada kehidupan
pedalaman, dan akan makin hilang apabila semakin dekat ia kepada kehidupan
kota.
Seperti kita sebutkan,
karena faktor-faktor ekonomi juga, baik Rumawi maupun Persia, hanya merasa
tertarik kepada Yaman saja dari antara jazirah lainnya yang memang tidak mau
tunduk itu. Mereka lebih suka meninggalkan tanah air daripada tunduk kepada
perintah. Baik pribadi-pribadi atau kabilah-kabilah tidak akan taat kepada peraturan
apapun yang berlaku atau kepada lembaga apapun yang berkuasa.
Sifat-sifat pengembaraan
itu cukup mempengaruhi daerah yang kecil-kecil yang tumbuh di sekitar jazirah
karena adanya perdagangan para kafilah, seperti yang sudah kita terangkan.
Daerah-daerah ini dipakai oleh para pedagang sebagai tempat beristirahat
sesudah perjalanan yang begitu meletihkan. Di situ mereka bertemu dengan
tempat-tempat pemujaan sang dewa guna memperoleh keselamatan bagi mereka serta
menjauhkan marabahaya gurun sahara serta mengharapkan perdagangan mereka
selamat sampai di tempat tujuan.
Kota-kota seperti Mekah,
Ta'if, Yathrib dan yang sejenis itu seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di
celah-celah gunung atau gurun pasir, terpengaruh juga oleh sifat-sifat
pengembaraan demikian itu. Dalam susunan kabilah serta cabang-cabangnya,
perangai hidup, adat-istiadat serta kebenciannya terhadap segala yang membatasi
kebebasannya lebih dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara
di kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu cara hidup yang menetap, yang
tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman. Dalam pembicaraan tentang
Mekah dan Yathrib pada pasal berikut ini akan terlihat agak lebih terperinci.
Lingkungan masyarakat dalam
alam demikian ini serta keadaan moral, politik dan sosial yang ada pada mereka,
mempunyai pengaruh yang sama terhadap cara beragamanya. Melihat hubungannya
dengan agama Kristen Rumawi dan Majusi Persia, adakah Yaman dapat terpengaruh
oleh kedua agama itu dan sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut di jazirah
Arab lainnya? Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama mengenai
agama Kristen. Misi Kristen yang ada pada masa itu sama giatnya seperti yang
sekarang dalam mempropagandakan agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa
serta cara hidup kaum pengembara tidak sama dengan orang kota. Dalam kehidupan
kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia merasakan adanya wujud yang
tak terbatas dalam segala bentuknya. Ia merasa perlu mengatur suatu cara hidup
antara dirinya dengan alam dengan ketak-terbatasannya itu. Sedang bagi orang
kota ketak-terbatasan itu sudah tertutup oleh kesibukannya hari-hari, oleh
adanya perlindungan masyarakat terhadap dirinya sebagai imbalan atas kebebasannya
yang diberikan sebagian kepada masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada
undang-undang penguasa supaya memperoleh jaminan dan hak perlindungan. Hal ini
menyebabkannya tidak merasa perlu berhubungan dengan yang di luar penguasa itu,
dengan kekuatan alam yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan
jiwa dengan unsur-unsur alam yang di sekitarnya jadi berkurang.
Dalam keadaan serupa ini,
apakah yang telah diperoleh Kristen dengan kegiatannya yang begitu besar sejak
abad-abad permulaan dalam menyebarkan ajaran agamanya itu? Barangkali soalnya
hanya akan sampai di situ saja kalau tidak karena adanya soal-soal lain yang
menyebabkan negeri-negeri Arab itu, termasuk Yaman, tetap bertahan pada
paganisma agama nenek-moyangnya, dan hanya beberapa kabilah saja yang mau
menerima agama Kristen.
Manifestasi peradaban dunia
yang paling jelas pada masa itu - seperti yang sudah kita saksikan - berpusat
di sekitar Laut Tengah dan Laut Merah. Agama-agama Kristen dan Yahudi
bertetangga begitu dekat sekitar tempat itu. Kalau keduanya tidak
memperlihatkan permusuhan yang berarti, juga tidak memperlihatkan persahabatan
yang berarti pula. Orang-orang Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih
menyebut-nyebut adanya pembangkangan dan perlawanan Nabi Isa kepada agama
mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja mau membendung arus agama Kristen yang
telah mengusir mereka dari Palestina, dan yang masih berlindung dibawah panji
Imperium Rumawi yang membentang luas itu.
Orang-orang Yahudi di
negeri-negeri Arab merupakan kaum imigran yang besar, kebanyakan mereka tinggal
di Yaman dan Yathrib. Di samping itu kemudian agama Majusi (Mazdaisma) Persia
tegak menghadapi arus kekuatan Kristen supaya tidak sampai menyeberangi Furat
(Euphrates) ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu didukung oleh keadaan
paganisma di mana saja ia berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang
di tangannya, ialah sesudah pindahnya pusat peradaban dunia itu ke Bizantium.
Gejala-gejala kemunduran
berikutnya ialah bertambah banyaknya sekta-sekta Kristen yang sampai
menimbulkan pertentangan dan peperangan antara sesama mereka. Ini membawa
akibat merosotnya martabat iman yang tinggi ke dalam kancah perdebatan tentang
bentuk dan ucapan, tentang sampai di mana kesucian Mariam: adakah ia yang lebih
utama dari anaknya Isa Almasih atau anak yang lebih utama dari ibu - suatu
perdebatan yang terjadi di mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa akibat
hancurnya apa yang sudah biasa berlaku.
Ini tentu disebabkan oleh
karena isi dibuang dan kulit yang diambil, dan terus menimbun kulit itu di atas
isi sehingga akhirnya mustahil sekali orang akan dapat melihat isi atau akan
menembusi timbunan kulit itu.
Apa yang telah menjadi
pokok perdebatan kaum Nasrani Syam, lain lagi dengan yang menjadi perdebatan
kaum Nasrani di Hira dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun, melihat
hubungannya dengan orang-orang Nasrani, tidak akan berusaha mengurangi atau
menenteramkan perdebatan semacam itu. Oleh karena itu sudah wajar pula
orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum Nasrani Syam dan Yaman dalam
perjalanan mereka pada musim dingin atau musim panas atau dengan orang-orang
Nasrani yang datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu di
antara golongan-golongan itu. Mereka sudah puas dengan kehidupan agama berhala
yang ada pada mereka sejak mereka dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang
mereka.
Oleh karena itu, kehidupan
menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, sehingga pengaruh
demikian inipun sampai kepada tetangga-tetangga mereka yang beragama Kristen di
Najran dan agama Yahudi di Yathrib, yang pada mulanya memberikan kelonggaran
kepada mereka, kemudian turut menerimanya. Hubungan mereka dengan orang-orang
Arab yang menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Tuhan itu baik-baik
saja.
Yang menyebabkan
orang-orang Arab itu tetap bertahan pada paganismanya bukan saja karena ada
pertentangan di antara golongan-golongan Kristen. Kepercayaan paganisma itu
masih tetap hidup di kalangan bangsa-bangsa yang sudah menerima ajaran Kristen.
Paganisma Mesir dan Yunani masih tetap berpengaruh ditengah-tengah pelbagai
mazhab yang beraneka macam dan di antara pelbagai sekta-sekta Kristen sendiri.
Aliran Alexandria dan filsafat Alexandria masih tetap berpengaruh, meskipun
sudah banyak berkurang dibandingkan dengan masa Ptolemies dan masa permulaan
agama Masehi. Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap merasuk ke dalam hati
mereka. Logikanya yang tampak cemerlang sekalipun pada dasarnya masih bersifat
sofistik - dapat juga menarik kepercayaan paganisma yang polytheistik, yang
dengan kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia.
Saya kira inilah yang lebih
kuat mengikat jiwa yang masih lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman,
sampai saat kita sekarang ini. Jiwa yang lemah itu tidak sanggup mencapai
tingkat yang lebih tinggi, jiwa yang akan menghubungkannya pada semesta alam
sehingga ia dapat memahami adanya kesatuan yang menjelma dalam segala yang
lebih tinggi, yang sublim dari semua yang ada dalam wujud ini, menjelma dalam
Wujud Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan demikian itu hanya sampai pada suatu
manifestasi alam saja seperti matahari, bulan atau api misalnya. Lalu tak
berdaya lagi mencapai segala yang lebih tinggi, yang akan memperlihatkan adanya
manifestasi alam dalam kesatuannya itu.
Bagi jiwa yang lemah ini
cukup hanya dengan berhala saja. Ia akan membawa gambaran yang masih kabur dan
rendah tentang pengertian wujud dan kesatuannya. Dalam hubungannya dengan
berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus, yang sampai
sekarang masih dapat kita saksikan di seluruh dunia, sekalipun dunia yang
mendakwakan dirinya modern dalam ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam
peradaban. Misalnya mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus di
Roma, mereka melihat kaki patung Santa Petrus yang didirikan di tempat itu
sudah bergurat-gurat karena diciumi oleh penganut-penganutnya, sehingga setiap
waktu terpaksa gereja memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.
Melihat semua itu kita
dapat memaklumi. Mereka belum nmendapat petunjuk Tuhan kepada iman yang
sebenarnya Mereka melihat pertentangan-pertentangan kaum Kristen yang menjadi
tetangga mereka serta cara-cara hidup paganisma yang masih ada pada mereka, di
tengah-tengah mereka sendiri yang masih menyembah berhala itu sebagai warisan
dari nenek-moyang mereka. Betapa kita tak akan memaafkan mereka. Situasi
demikian ini sudah begitu berakar di seluruh dunia, tak putus-putusnya sampai
saat ini, dan saya kira memang tidak akan pernah berakhir. Kaum Muslimin dewasa
inipun membiarkan paganisma itu dalam agama mereka, agama yang datang hendak
menghapus paganisma, yang datang hendak menghilangkan segala penyembahan kepada
siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.
Cara-cara penyembahan
berhala orang-orang Arab dahulu itu banyak sekali macamnya. Bagi kita yang
mengadakan penyelidikan dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui
seluk-beluknya. Nabi sendiri telah menghancurkan berhala-berhala itu dan
menganjurkan para sahabat menghancurkannya di mana saja adanya. Kaum Muslimin
sudah tidak lagi bicara tentang itu sesudah semua yang berhubungan dengan
pengaruh itu dalam sejarah dan lektur dihilangkan. Tetapi apa yang disebutkan
dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam abad kedua Hijrah -
sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda karenanya - menunjukkan, bahwa
sebelum Islam paganisma dalam bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat
yang tinggi.
Di samping itu menunjukkan
pula bahwa kekudusan berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap
kabilah atau suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan.
Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda pula antara sebutan
shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub. Shanam ialah dalam bentuk manusia
dibuat dari logam atau kayu, Wathan demikian juga dibuat dari batu, sedang
nushub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Beberapa kabilah
melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Mereka beranggapan batu karang itu
berasal dari langit meskipun agaknya itu adalah batu kawah atau yang serupa
itu. Di antara berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal dari
Yaman. Hal ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka tidak dikenal di
Hijaz, Najd atau di Kinda. Sayang sekali, buku-buku tentang berhala ini tidak
melukiskan secara terperinci bentuk-bentuk berhala itu, kecuali tentang Hubal
yang dibuat dari batu akik dalam bentuk manusia, dan bahwa lengannya pernah
rusak dan oleh orang-orang Quraisy diganti dengan lengan dari emas. Hubal ini
ialah dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka'bah di Mekah.
Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu.
Tidak cukup dengan
berhala-berhala besar itu saja buat orang-orang Arab guna menyampaikan
sembahyang dan memberikan kurban-kurban, tetapi kebanyakan mereka itu mempunyai
pula patung-patung dan berhala-berhala dalam rumah masing-masing. Mereka
mengelilingi patungnya itu ketika akan keluar atau sesudah kembali pulang, dan
dibawanya pula dalam perjalanan bila patung itu mengijinkan ia bepergian. Semua
patung itu, baik yang ada dalam Ka'bah atau yang ada di sekelilingnya, begitu
juga yang ada di semua penjuru negeri Arab atau kabilah-kabilah dianggap
sebagai perantara antara penganutnya dengan dewa besar. Mereka beranggapan
penyembahannya kepada dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada Tuhan dan
menyembah kepada Tuhan sudah mereka lupakan karena telah menyembah
berhala-berhala itu.
Meskipun Yaman mempunyai
peradaban yang paling tinggi di antara seluruh jazirah Arab, yang disebabkan
oleh kesuburan negerinya serta pengaturan pengairannya yang baik, namun ia
tidak menjadi pusat perhatian negeri-negeri sahara yang terbentang luas itu,
juga tidak menjadi pusat keagamaan mereka. Tetapi yang menjadi pusat adalah
Mekah dengan Ka'bah sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang berkunjung dan ke
tempat itu pula orang melepaskan pandang. Bulan-bulan suci sangat dipelihara
melebihi tempat lain.
Oleh karena itu, dan
sebagai markas perdagangan jazirah Arab yang istimewa, Mekah dianggap sebagai
ibukota seluruh jazirah. Kemudian takdirpun menghendaki pula ia menjadi tanah
kelahiran Nabi Muhammad, dan dengan demikian ia menjadi sasaran pandangan dunia
sepanjang zaman. Ka'bah tetap disucikan dan suku Quraisy masih menempati
kedudukan yang tinggi, sekalipun mereka semua tetap sebagai orang-orang Badwi
yang kasar sejak berabad-abad lamanya.
[1] Dikutip oleh Sir Muir
dalam The Life of Mohammad, p.xc.
[2] Cerita demikian
terdapat dalam beberapa buku sejarah. Encylopedia Britannica juga menyebutnya,
dan dikutip oleh penulis-penulis buku Historian's History of the World dan juga
dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de Mahomet. Akan tetapi
At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn Muhammad bahwa setelah orang Yaman
itu pergi meminta bantuan Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelaskan
apa yang telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela agama
Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah sebagian dimakan api,
Najasyi berkata: "Tenaga manusia di sini banyak, tapi aku tidak punya
kapal. Sekarang aku menulis surat kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan
dengan itu akan kukirimkan pasukanku." Lalu ia menulis surat kepada Kaisar
dengan melampirkan Injil yang sudah terbakar. Dan menambahkan: "Hisyam ibn
Muhammad menduga, bahwa setelah kapal-kapal itu sampai ke tempat Najasyi,
pasukannyapun dinaikkan dan berangkat ke pantai Mandab." Lihat
Tarikh't-Tabari cetakan Al-Husainia, vol. 2, p. 106 dan 108.
[3] Beberapa keterangan
dalam buku-buku sejarah berbeda-beda tentang sebab penyerbuan Abisinia
(Habasya) ini ke Yaman. Keterangan itu mengatakan, bahwa hubungan dagang antara
Arab Musta'riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus berlangsung. Pada
waktu itu pantai-pantai Habasya membentang sepanjang Laut Merah lengkap dengan
armada perdagangannya. Karena kekayaan dan kesuburannya, Kerajaan Rumawi ingin
sekali menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) Kaisar Rumawi di Mesir
mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya dikerahkan menyeberangi
Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang Najran. Tetapi karena adanya penyakit
yang menyerang mereka. Orang-orang Yaman mudah sekali mengusir mereka itu dan
merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumawi berturut-turut menyerang
jazirah Arab di Yaman dan di luar Yaman, tapi kenyataannya tidak lebih
menguntungkan dan yang pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di
Abisinia merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah
memaksakan agama Yahudi terhadap orang-orang Rumawi yang beragama Kristen.
Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan berkuasa di tempat itu sampai pada
waktu Persia datang mengusir mereka.


Post a Comment